Jumat, 20 Mei 2011

puisi aries kelana


I Q R O’
Tuhan
Ini keinginan dan kebodohanku
izinkan aku untuk memulainya
dengan menyebut nama – mu

Tuhan
Ini niat dan harapanku
berikan aku petunjuk permulaan dari - mu
tindakan tidak menjadi perubahan
jika niat tidak lagi dipakai
bersama langkah – langkah yang tertinggal

Tuhan
Ini hamba yang menghamba pada-mu
izinkan aku membaca ilmu – mu
menjadi beruntung bersama orang – orang yang beruntung

Tuhan
Ini hamba yang menghamba pada-mu
izinkan aku untuk mennyentuh ilmu-mu
manusia tidak dikatakan berilmu
dengan ilmu yang tidak bisa memanusiakan manusia
dengan rasa manusiawi

Tuhan
Ini do’a dan kebodohanku
izinkan aku hilangkan kebodohan itu
Ilmu tidak dikatakan ilmu jika manusi tidak lagi
Menggunakan ilmunya

Tuhan
Ini hamba yang menghamba pada- mu
hilangkan kebodohan itu
dengan mengharap Ridho-mu

Sumenep, 27 september 2010



ELFARISA
1ELFARISA 19


Sebening embun cinta yang kau racik bersama
menyulam kata dari makna luka sementara
hanya untuk sebuih perasaan dari pekat embun menatap hari

Kebersamaan kita hingga musim
tak lagi singgah dalam kegersangan hati ini
sehingga dahaku semakin merajam hari

Malam ini rembulan semakin menatap sunyi
tanpa gerimis dingin gigil besamaku
dan takdir waktu yang semakin pilu di tabir
keresahanku

Semakin banyak pecahan duri
yang membawa kita semakin terhanyut
kedalam ranjang asmara
hanya satu yang aku pinta
jadilah duri terlindung dalam tubuhku
mengurai kata-kata dari sajak cintaku

Kehadiranmu mengantarkanku
kedasar pencarian cinta ini
mungkin di dasar laut kau bisa berlayar
bersamaku menjaring matahari dan gurita
di atas perahuku menikmati terik
dan gigil waktu di ujung usiaku

Lenteng, 24 Februari 2011










 

Suara Hati Si Batu Karang
ELFARISA 12
Kasih tatap mataku dan kutatap matamu  bagai busur panah yang menancap keras dalam tubuh kita

Kasih dari hidungmu aku lukis wajah tuhanku yang menjalar dari alis matamu yang hitam dan berdebu  

Mencintaimu bagai embun yang sirna di pagi hari
terlalu cepat kau pergi dan merubah takdir waktu bersamaku
terlalu sempurna tuhan menciptakanmu menyulam ketertarikan dari ketajaman bola matamu hingga harus terluka seperti ini

Aku merasakan kesejukan yang mengalir dari dadamu
membelah menjadi dua arus aliran percintaan kita

Di puncak kemarahan ujung gunungmu
aku raih dan aku lumat keresahan dan kegersangan tubuhmu

Gunung dadamu yang kau belah menjadi dua benua mengalir deras di belahan jiwamu, jiwaku

Kekasih sentuhlah tubuhku lalu kau selimuti aku tanpa resah membelenggu 

Tuhan…….dimana dirimu aku telah jelajahi gunung setinggi nada tangga dadamu yang menjulang di tubuhmu

Dari perutmu aku tulis pusaran waktu yang berlagu dan berliku
tubuhmu adalah jembatan bagiku dan kemarahanmu adalah arus yang menantangku

Tuhan ……….jangan kau paksa aku tuk melawanmu karena aku tak cukup usia dan sebilah pedang untuk perawanku
Lenteng, 05 Mei 2011






 

ELFARISA
SUARA HATI

Biarkan aku tertidur lelap
diantara sela-sela jemarimu yang lembut
menjadikan damai  memeluk resah ini

Aku ingin tertidur diantara bintang – bintang
yang membuat mimpi – mimpiku menjadi terang

Di pelupuk matamu aku melihat kesejukan jiwa
yang jauh dari keramaian
yang menjadikan aku terasing tanpamu

Aku hanya ingin menjadi tempat
dimana aku teduh bersamamu
dan jauh dari keterasingan rindu ini

Sumenep, 10 Januari 2011



















 

Suara Hati Si Batu Karang
LEWAT HUJAN DAN KEMARAU


Kapan kau akan datang untuk cinta
yang sejukkan kemarau panjang
mengalir di atas luka meneteskan air mata kepiluan

Aku berjalan di atas ranting yang kering
hampir kau robohkan bongkahan -bongkahan
akar batang hati ini

Lewat hujan dan kemarau
aku mencintaimu bagai putik yang takkan hilang
di ujung serbuk sari itu

Menaburkan jiwa-jiwa bernyawa
bersemayam di lautan cintamu
mengalir lewat hembus nafasmu
hingga darah jantungku tertompa arus jantungmu

Lenteng, 30 November 2010



















 

ELFARISA
ELFARISA 5

Ditubuhmu terdapat syair lagu untuk tuhanku

Dimatamu aku temukan kesetiaan untukku dan ketenangan jiwa di batinku

Di rambutmu aku bagai berlari di hutan yang rimbun yang bisa saja aku tersesat di jamban tubuhmu

Dialismu telah ada tanda-tanda akan turun hujan di mataku mengubur kenangan dan masa lalu bersamamu

Dipipimu ternyata hujan itu lembap dan beku mungkin karena suhu tubuhmu atau saat ini adalah musim penghujan untuk para malaikat cintaku

Dihidungmu kutemukan butiran embun yang hampir pecah karena kegersangan
ataukah dia sedang murung pasrah karena keadaan

Dari bibirmu tak ada petir yang lebih menyakitkan dari pada kata-kata
aku harus meninggalkanmu agar tak ada lagi kekecewaan dan luka batinku

Karena bulan mei adalah musim bagi kupu-kupu yang akan terbang mencari kehidupan lain

Bukan siapa-siapa tapi sessuatu yang telah merubahmu

Lenteng, 05 mei 2011









 

Suara Hati Si Batu Karang
ELFARISA 25
Tak ada luka seindah musim ini
bersamamu aku  harus terluka berkali-kali

Tapi mana tuhanmu dia takpernah menyentuhku dia tak pernah bersamamu
ataukah aku harus habis kata-kata untuk mencarinya tapi tidak pada dirimu

Kasih……tataplah betapa aku ingin menyelimuti tubuhmu, menyelimuti hari kemurunganmu tanpa harus dahaga merajamku

Tubuhmu yang gersang telah membelah dadaku, merobek jantungku, meminum habis reguk air mataku

Tak ada kata lagi, tak ada lagu lagi
karena kamarku sesak dengan kupu-kupu yang terluka musim ini

Di ranjang pengantin kita aku lebur besamamu, aku luruh bercinta denganmu
hingga aku harus terbujur kaku tanpa kata

Sungguh percintaan kita tak seindah bulan pernama yang hanya sebertar lalu pergi tanpa kata-kata

Tuhan…..hukumlah aku adililah kekasihmu ini yang telah lancang membelah keperawanan di tubuhmu

Tuha…..jambanlah diri ini yang telah mengusik ketenangan para malaikat yang sibuk merajut kembali robekan luka sayapnya

Bunga yang indah di genggaman tanganmu  kini telah mengering bersama usia cinta kita

Kini aku harus berpulang dari rumahmu
dan berpamit rindu dari sajak-sajakku
Karena luka-lukaku telah sempurna bersamamu
 Lenteng, 06 mei 2011


 

ELFARISA
PERJALANAN

Hidup adalah perjalanan
menggapai mahkota kenabian
bagai lautan mengalirkan
setetes madu

Sumenep, 24 septenber 2010




























 

Suara Hati Si Batu Karang
BUAH IMAN

Semakin tinggi pohon
semakin banyak ranting
semakin banyak daun
dan semakin kencang pula
angina yang menerpanya

Sumenep, 26 september








































 

ELFARISA
H A T I

Itulah sebutan
simerah pekat
melekat dalam jiwa
dan raga manusia

Hati – Hati dengan hati
karena hati menyerang
saraf jantung dan nadi mati

Hati – Hati dengan hati
karena hati bersih nan suci
bersama orang – orang yang sufi

Hati
itulah sebutan
simerah pekat
mengalir dalam saraf – saraf
dan jantung manusia

Hati – Hati dengan hati
tergores perih  nyeri
tak terobati

Hati – Hatilah dengan hati
karena hati titipan ilahi

Sumenep, 26 septembe 2010










 

Suara Hati Si Batu Karang
SAJAK HARI  INI


Hari ini aroma tanah masih tercium mesrah
bersama lantunan hujan yang perih terasa di ujung keningmu

Sesekali kau usap kata ma’af
dengan langkah penuh dosa

Hujan yang kini mengering di ladang cintaku
mengeras bagai batu berubah jadi abu
mengadu pada deru waktu

Sesak dadaku penuh debu berhembus
dari dalam palung-palung di jiwaku

Hari ini tak ada lagi lagu
untuk kau kenang senyap dala bayang

Hari ini esok dan yang terlampaui
akan jadi kenangan
bagai embun yang menepi di pagi hari

Lenteng, 11 maret 2011






















ELFARISA



IDENTITAS SEORANG PENYAIR

Kini waktu yang kau sebut laut kepulangan
menjadi jinak di tanganmu
tertidur lelap dalam pelukmu
setelah hujan kembali bertandang kemarau sakalmu

Lautmu yang terbakar dalam dadaku
mengering seluruh kepingan darah jantungku
bukannya aku tak luruh dalam perjalanan ini
kadangkala aku harus terluka dan menyiksa batinku
hanya untuk berpeluk mesrah dengan-mu

Kini sungai-sungai di dadaku mengalir dengan deras
semakin membawaku ke arus yang lebih dalam
semoga saja aku tak takterjebak
dalam pusaran arus kemarahan lautmu

Karena aku penyair yang mencintai
gemuruh ombak syahdumu

Lenteng, 9 maret 2011


















 

Suara Hati Si Batu Karang
AKU CINTA TUHAN

Kesendirianku adalah cerita masalalu mengenangmu
sepi, hening di matamu membuat diri ini layu
tak mengubah waktu dan takdir di meja makanku

Menu hari ini berjumpa lewat ruas waktu yang berbuku
dan kupahat lukaku di antara ruas-ruas itu bersamamu

Semakin banyak aku menulis syair tubuhmu
lewat kubahan luka hari-hari berbuku yang beruas waktu
diantara patahan ranting dan guguran daun musim semi

Sepi kamarku menindih lapang dada tubuhku
datanglah kekasih, ku rundukkan punggungku
dari sayap subuh yang berpulang dari ladang sejadahku

Inikah rahasia percintaan tak menghabiskan
detik di punggungku

Ataukah rahasia cinta dengan tuhanku
hanya aku dan waktu usiaku yang layu  

Lenteng, 29 april 2011






















ELFARISA





RUMI

Di sudut remang menatap kesetiaanmu menghujani di setiap haluan
tanah yang gersang tuk jadikan hamparan ladang sejadah dalam perjalanan riuh ombakmu

Serasa aku terbawa arus gemulaumu yang syahdu
dengan deburan ombak memanja di tebing kepiluanku

Kasihku tataplah betapa aku ingin bermesrah ramah denganmu
dengan tiada kebisingan dan gelagak rayu mencumbu

Oh ..maha kasihku kau sentuh tubuhku mulai dari rahim tanah yang layu
menjadi darah yang mengalir kesekujur tubuhku
dari berjuta sel bercumbu rayu menyatu menjadi satu

Karena air susu ibu aku menjadi tabu manis di bibir
mengecup pahit empedu tak sirna di tabir  kepiluanku

Perjalanan ini berlarut panjang sepanjang makna dari kata mutiara cintamu
berparas terik layu di langkah rahim ibu tak terurai sepanjang waktu

Ya…. Aku memang tabu tak sempat air mengalir di wajah, tangan, kepala, telinga, dan di jemari kakiku
karena aku tersipu malu dengan kecantikan maha karyamu

Kasih aku tak ingin layu sebelum kau petik tangkai dalam luruh sujudku
melebur bunga-bunga di taman surgamu
mengharumkan di setiap tabir bidadari yang bergaun mawar putih itu

Ya....! akulah rumi itu mencari percikan cahaya di sudut remang
malam yang kaku
tertusuk runcing subuh di balik bongkahan sayapku hingga aku tak sempat terbang melebur syahdu di ranah ladang sejadahku yang pilu

Lenteng, 19 Januari 2011



 

Suara Hati Si Batu Karang
MUSAFIR  I

Seperti yang di nyanyikan oleh burung -urung yang lepas di ranting – rantig yang  teduh dengan sentuhan daun bibir tak bertulang

Yang mengecup kening senja hilang di balik tabir pipimu membasahi bulu-bulu roma yang hinggab di hulu persinggahan hingga aku tak sempat bercengkrama memeluk aroma tabir senja yang menetas di hulu mata keningmu

Aku sendiri memegang sebatang pengayuh perahu kecil ini
berlayar mengarungi luasnya samudra cintamu hingga waktu tak berjanji menemani sampai di ujung percakapan antara kau dan aku

Akankah gelombang dan riuh ombakmu tak bias diujung pasir-pasir yang masih Menyisakan kebaikan dihulu perahuku
selaksa gelombang yang liar digenggaman tanganku tak sempat aku lirihkan dengan do’a bersama perahu kecil ini untuk menjemputmu

Jika waktu,
kau berada dalam palung yang jauh akan kupersiapkan bekal untuk mengarungi walau hari lagi-lagi menyengat dengan hangat dan ombak menari menemani fatwa tentang cintamu yang kian kunanti

Bila waktu,
Aku temukan kau dalam kecantikan ubun fajarmu tak sempat kembali kutulis sajak beraroma bibir senyummu yang hilang di bias pekatnya embun pagi tersulut aroma kelopak bunga matahari mekar menakar kembali riuh ombak menyambut desah nafasku tuk arungi samudra liarmu menepi di tabir kelamin karang, pasir yang hangat terasa memeluk tubuh ini

Ah ..! aku tidak puas jika hanya kau kecup kening dan kau lumat ujung bibirku meremas lemas jemari tanganku lalu kau pergi dalam gemetar tubuhku tenggelam di ujung kelaminmu yang rentan menimbun pagi terbias harapan kau kembali memeluk tubuhku yang gemtar ini


ELFARISA



KATAKANLAH

: katakanlah
  Kepada angin yang berbisik memahami
  makna tubuhmu yang tak mungkin  setia
  meniadakan segalanya
: katakanlah
  Kepada air yang bergelombang
  mengalir dari tubuh adam
  memasang surutkan gelombang
  lautan yang mungkin saja
  menelan segala ketiadaan
: katakanlah
  Kepada api yang membara membakar
  segala yang ada
  tempat hamba durhaka
  tak mengakui kelemahan dirinya
: katakanlah
  Kepada adam yang terlahir dari segumpal tanah
  dengan segala ada dan ketiadaan
  menyulam perempuan dari kesendirian
: katakanlah
  Tuhanmu satu
  dia tidak beranak dan tidak pula di peranakkan

 Lenteng, 28 April 2011


















Suara Hati Si Batu Karang



MENGEJA MALAM

Mengeja malam yang retak menjalar dari dinding yang berlumut
malam ini kunang-kunang telah lenyap berpulang ketepian danau
tempat menyuci lumut pada dinding merah yang memar
dengan air garam tepian danau firdaus

Hening malam ini tak sampai keranjang tubuh molekmu
sempat kiranya luluri tubuhku dengan gaun pengantin yang baru
dari gugusan karang, kemenyan dan rentang waktu yang kian
merindumu
Batuan, 13 April 2011




























 

ELFARISA
Di pelabuhan tabir senjamu lagi-lagi tak sempat kurampungkan sajak
buhul ubunmu tak menyiratkan kepulanganmu tuk kutulis selembar puisi lagi untukmu

Aku hanya musafir yang haus ilmu
menakar langit dan bumi tuk jadi selimut tubuhku lalu luruh dalam percintaan denganmu wahai kekasihku

Asta Tinggi, 17 Januari 2011


















































 

Suara Hati Si Batu Karang


NYANYIAN PAGI

Nyanyian embun di pagi hari
membuat bunga-bunga itu tersenyum
lepaskan dahaganya

Menjadikan seekor kupu-kupu rebah menghampiri
hinggap menghisap madu lepaskan rasa gelisah
saat hujan kembali membasahi sayapku

Aku tertidur lelap dalam rumah kepompong itu
hingga tahun berlalu aku sayup memeluk malam
di ujung gelab bersama-mu

Lenteng, 30 November 2010



ELFARISA






di tabir keresahankutanpa gerimis dingin gigil bersamakumalam ini semakin menatap sunyi
























 

ELFARISAtanpa gerimis dingin gigil bersamaku
BERPULANG DARI RUMAH-MU

Malam saat kudengar lantunan kedatangan hamba-hambamu
yang telah berpulang menyucikan lumut
pada dinding rumah-mu

Aku bagai rayap-rayap yang beterbangan
menghampiri cahaya lampu itu
mengharap kehangatan dan kehidupan dari rumah-mu

Dari cahaya putih itu
aku gugurkan diantara saya-sayap yang membawaku
kepelukan diantara aroma tubuhmu
menjadikan guguran sayap itu menjadi berjiwa kembali

Lembung, 2 November 2010



dan takdir waktu yang semakin pilu

di tabir keresahanku












Suara Hati Si Batu Karang
MUHAMMAD













 

Suara Hati Si Batu Karang
SAJAK EMBUN PAGI HARI

Kekasih izinkan aku menangis karenamu
biarkan airmata ini mengalir di tabir keresahanku bersama puluhan anak sungai jauh kedalam palung batinku

Pagi ini burung-burung itu sepi dan menyendiri
tidak tau arah harus bagaimana

Dia kehujanan gigil seluruh bulu tubuhnya
jangan menghiburku karena sayap-sayap ini telah berpatahan di dahan ranting-ranting yang kering bersama musim kemarau yang panjang

Ataukah dia sedang menikmati luka-luka di batinnya

Kekasih izinkan aku memeluk resah ini tanpa harus kau pergi
dan takkan pernah kembali

Karena aku akan selalu setia menantimu
hanya kau yang dapat sembuhkan luka-luka di tubuhku

Lenteng, 07 mei 2011

























 

ELFARISA
SAYAP BURUNG YANG TERLUKA

Jangan menangis sayangku, janganlah kau bersedih lantaran sayap burungmu yang terluka bersamaku

Jangan menangis sayangku, janganlah kau bersedih
walau kau tak lagi mampu terbang mengepahkan sayapmu di udara bersamanya

Jangan menangis sayangku, karena airmatamu akan ter buang sia-sia
dan hanya membuat luka yang baru di tanganmu

Jangan menangis sayangku, janganlah bersedih
luka di pergelangan tanganmu akan sembuh dengan waktu bersamamu

Sayangku sentuhlah luka-luka di sayapku
dengan kesejukan di batinku

Bersamamu tak ada luka dan percintaan yang lebih indah karena kau kekasihku dan aku menyayangimu
kini aku harus menunggumu bersama sayap burung yang terluka

Lenteng, 07 mei 2011






















 

Suara Hati Si Batu Karang
BIODATA

FARIS ( Aries Kelana ) yang masih penyair ingusan dibandingkan penyair-penyair di luar sana. Kelahiran Sumenep, 12 juli 1987 desa Lembung Barat Kec. Lenteng. Senang
menulis sejak MA. Miftahul Ulum Lenteng sampai sekarang menjalani kuliyahnya jurusan Tarbiyah, Aqidah Usymuni Tarate Pandian Sumenep ( STITA ). Sebagian
karyanya pernah dimuat di media cetak, antara lain di Majalah Mimbar
 ( MPA), Majalah Fikri, Buletin Fikri, dan sering juga di bacakan di acara Nada Dan Kata Radio Mif-U 87,9 FM (Belajar Bersama Di Udara) Radio Suwasta Di Lenteng. Sekaligus presenter Radio Mif-U 87,9 FM ), sebagai editor Majalah Fikri( Media Kreasi Dan Aspirasi Siswa ).

Organisasi:
Sebagai seksi Seni Dan Budaya ( Seniman dan musisi Lenteng ) di Yayasan Corporation yang  menaungi beberapa komunitas lainnya antara lain: Yayasan Band, Yayasan Celuler, Yayasan FC, Yayasan Salon, Yayasan Ternak, Yayasan Seni, Yayasan Desing, Yayasan Media.

Aktif di komunitas Teater Pelar Sumenep, anggota kajian Seni Dan Budaya PANGESTOH NET TIHINK COMMUNITY sumenep, dan guru di lembaga MA. Miftahul Ulm Lenteng sekaligus pembina Teater Bintang di lembaga Miftahul Ulum Lenteng. Menulis puisi dua bahasa: Bhs. Indonesia Bhs. Madura (dalam tahap penyeleksian antologi puisi madura: Kaule oreng madura/ Ajharing bulen ka a langan ). dan tahap penyeleksian antologi puisi bersama (Antologi Puisi Yayasan Corporation )

Persembahan:
Kepada Elfarisa, ibunda tercinta, ayahanda, guru, semu komunitas pelar, Smile ( Seniman Dan Musisi Lenteng) dan “taretan”  yang aktif di bidang seni dan budaya.



ELFARISA





ELFARISA






PUISI ARIES KELANA




























SUARA HATI SI BATU KARANG




ELFARISA


Puisi: Aries Kelana



Diterbitkan Oleh
Yayasan Corporation:
Yayasan Seniman Dan Musisi Lenteng

Jalan: Rantai Hidup Yang Rumit No. 05
         : Yayasan Corporation Kecamatan Lenteng
: HP 087850523726
          : http//yayasan-org.blogspot.com

Desain Sampul
Aries Kelana



Tata Letak
Aries Kelana



Hak Cipta dilindungi Oleh
Yayasan Corporation:
Yayasan Seniman Dan Musisi Lenteng
/Dapat dipertanggung jawabkan


Cetakan Pertama, 25 Mei 2011




ELFARISA


PERIHAL PENYAIR
“Kulukis wajah tuhan di tubuhmu”. Perjalanan batin seorang penyair yang begitu ingin. Sehingga sesuatu dapat dirubah dari tidak mungkin menjadi mungkin di tangan seorang penyair. Memang pejalanan seorang penyair tidak harus di samakan dengan seorang sufisme namun ketika seorang penyair berada pada tempat dimana tidak semua orang dapat memasuki tempat dan ruang itu hening, meditasi maka saat itu seorang penyair akan begitu ingin bertemu dengan tuhannya walau harus terluka batin dan perasaannya. Elfarisa dimana tempat untuk menuju pelabuhan yang di ingini sang penyair suara hati si batu karang, sebagai jembatan dari tubuh dan luka-luka bersamanya, yang tak sebagian orang dapat memasuki dunia itu sungguh perih menjadi seorang penyair ketika harus terluka yang begitu menganga di tubuh batinnya.
Perjalanan ini memang harus terluka dan bahagia, dan aku menikmati luka-luka di tubuh batinku lewat aliran percintaan di ranjang tubuhn-nya tempat aku menanam dan memadu kasih bersama-nya aku lebur aku luruh bercinta dengan-nya saat itu aku melukis wajah tuhanku di tubuh elfarisa yang mungkin saja aku sejuk bersama tuhanku di tubuh elfaria.
Sungguh perjalanan ini tak menghabiskan detik dipunggungku dan sebilah pedang untuk perawanku mungkin karena aku adalah penyair yang dungu, yang selalu mencari percikan cahaya di sudut remang malam yang kaku hingga aku tertusuk runcing subuh dibalik bongkahan sayapku tak sempat terbang melebur syahdu di ranah ladang sejadahku yang pilu.
Hari ini tak ada lagi lagu yang dapat kita kenang senyap dalam bayang hanya suara hati kita dan sejarah yang kita tinggalkan untuk anak cucu kita untuk mereka baca dari jejak sajak-sajak di luka tubuh kita.
Tenanglah sayang aku akan berlayar sejauh pulau di batinmu, batinku, walau aku harus tenggelam dan rapuh di perjalanan untuk mencarimu.
Sebegitu inginnya sang penyair untuk menemui tuhan-nya hingga harus dahaga merajam tubuhnya, setiap hari-hari bersamanya yang meminum habis reguk airmata dan keringat dingin di tubuh sang penyair
Sebegitu mengharapkah sang penyair untuk bertemu sang maha kasih-nya dengan luka-luka sepanjang perjalanan hidupnya hingga harus waktu, usia di punggungnya tak bisa menghapus dosa-dosa selama hidupnya
Sungguh maha sempurna kau ciptakan sang adam menyulam perempuan dari kesendirian hingga harus melanggar tata tertip tuhan di buang telanjang  dari sudut yang berlainan,  sungguh kisah ini telah bersama elfarisa sepanjang jalan, semoga saja  aku terlahir kembali dari rumah kepompong yang membuat ketertarikan setiap mata yang memandang hingga adam dan hawa memulai kebersamaan di kehidupan yang akan datang. Ataukah elfarisa  sepanjang jalan. Saling mencintaim bagai putik yang takkan hilang di ujung serbuk sari yang sedang mekar.


 

Suara Hati Si Batu Karang
SYAIR SENJA

Di ranjang tubuhmu aku masih belum sempat melukis wajah tuhanku lewat syair senja yang selalu kurindu dekapannya

Basah seluruh tubuhku tak menyisakan keabadian
diujung sisa hujan dirambutmu dan mengagamakan syair puisiku
di tubuhmu

Keabadian cintaku melukis tubuhmu dan wajah tuhanku dalam syair puisiku
hingga tahun berlalu kau selalu bersamaku menemani perjalanan kepenyairanku yang tabu

Karena kau adalah bidadari yang mengantarkanku ke negeri tak bernama yang selalu kucari dengan luka di batinku

Oh….sayangku kini kau harus berpulang bersama syair senja di tubuhmu
membawa segala kenangan dan masa laluku
mungkin karena aku adalah penyair yang dungu mengharap kau selalu
sembuhkan dahagaku

Lenteng, 08 Mei 2011



















ELFARISA
  • Pengantar Penerbit
  • Pengantar Manager
  • Pengantar Penasehat
  • Pengantar Penyair

Ø      1 Elfarisa 19
Ø      2 Elfarisa 12
Ø      3 Elfarisa 5
Ø      4 Elfarisa 25
Ø      5 Hati
Ø      6 Sajak Hari Ini 
Ø      7 Rumi
Ø      8 Musafir 1
Ø      9 Nyanyian Pagi
Ø      10 Sayap Burung Yang Terluka
Ø      11 Sajak Embun Pagi Hari
Ø      12 Berpulang Dari Rumahmu
Ø      13 Mengeja Malam
Ø      14 Katakanlah
Ø      15 Aku Cinta Tuhan
Ø      16 Identitas Seorang Penyair
Ø      17 Buah Iman
Ø      18 Perjalanan
Ø      19 Lewat Hujan Dan Kemarau 
Ø      20 Suara Hati 
Ø      21 Iqro’
Ø      22 Disebuah Senja
Ø      23 Syair Senja
Ø      24 Rantai Hidup Yang Rumit
Ø      25 Pergi Kepulau
Ø      26 Laila
Ø      27 Sujut Hati Ayat 4
Ø      28 Sujut Hati Ayat 6
Ø      29 Kulukis Wajah Tuhan Ditubuhmu
Ø      30 Padang Rembulan
Ø      31
Ø      32
Ø      33
Ø      34
Ø      35
Ø      36 Perihal Penyair
DI ESBUAH SENJA

Di sebuah senja kau telah menua bersama usia cinta kita
yang telah kita ukir indah bersama, dengan luka yang teramat parah dan menganga

Kota tempat kita memadu kasih, kini telah sirna bersamamu
hanya tinggal debu-debu yang merindu kota kenangan di tubuhmu

Sungguh, keabadian cinta ini tak selalu sempurna
dan berahir dengan luka

Di sebuah senja kau melepas diantara sayap-sayap kenangan
masalalu yang pilu
berhamburan seluruh resah di batinku

Oh….sayangku jangan kau pernah pergi dalam keabadian cinta ini
karena aku tak kuasa meninggalkan ladang sejadah di tubuhmu
tempat aku menanam dan memadu kasih bersamamu

Kini aku harus menunggu, karena kau berpamit rindu di sebuah senja kepulanganmu

Lenteng, 08 Mei 2011


















ELFARISA
 RANTAI HIDUP YANG RUMIT

Tenang sayang, basahilah jiwamu dengan sekuntum bunga do’a di tanganmu

Perjalanan ini adalah anak rahim kehidupan masa depan yang tak satupun tau teka-teki dalam rantai kehidupan yang rumit

Diusia perjalanan kita anak rahim batin jiwa kita akan merasakan bahagia, sedih, murung, kadang kala harus terluka yang amat menganga

Kita akan berpindah tempat ketempat yang lain
terkadang kita harus tertidur dalam rumah kepompong dan terlahir kembali
Saat itulah kita akan merajut kehidupan yang baru memberi keindahan dari setiap mata yang memandang, memberi kesejukan dari bunga yang sedang mekar

Tenang sayang, kita telah lewati masa demi masa dan telah tertidur dalam rumah kepompong itu dan melukis wajahmu di langit yang biru

Lenteng, 11 Mei 2011
























Suara Hati Si Batu Karang
PERGI KEPULAU

Sayang dari air laut garammu yang asin
aku belajar tentang syair kehidupan

Sayang dari gemuruh ombakmu yang bergelombang aku belajar tentang syair ketegaran

Sayang ajaklah aku sejauh kepulau batin rindumu membangun singgasana bersama para malaikat dikedua bahuku

Oh maha…kasih biarkan aku berlayar sejauh pulau dibatinmu walau aku harus rapuh dan teggelam dalam perjalan untuk bersamamu

Lenteng, 11 Mei 2011
























ELFARISA
LAILA
Laila
Namamu indah nan manja
membuat anak adam terlena-lena
kini kau datang dan pergi
membuat anak adam semakin bersedih hati
karena kau tak kunjung kembali
dalam pelukan mata hati

Laila
Malam itu adam dalam sebingkai do’a
dengan mengharap kehadiran-mu
menyentuh mata air cinta
mengalir membasahi sejadah panjangku

Laila
Kau datang dengan sejuta harapan
kau hadir dalam sajak- sajak tasbih cintaku
kau datang penuh harapan
terangi gelap malam menyelimuti hati penuh duri
kini kau telah pergi membawa sejuta penyesalan di hati

Laila
Akankah anak adam
bisa bercumbu bersamamu kembali
dimalam yang suci dalam dekapan lailatul qadarmu
yang penuh dengan sejuta arti

Semenep. 28 September 2010













Suara Hati Si Batu Karang
SUJUD HATI AYAT 4

Perjalanan sujud hati ini masih
bertanya-tanya di alam yang petang
hingga gejora bintang takmampu aku kejar
bagai bayang - bayang menghantui dari belakang
saat hati ini bersujud aku tak pernah temukan
dirimu wahai tuhan

Apakah itu bayangan
apakah itu bintang-bintang
apakah itu api yang menyala-nyala
mengobarkan keangkuhan

Sayang…. !
Sampai kapan hati ini harus bersujud
sedangkan kau tak pernah aku kenal

Lenteng, 2010






















ELFARISA
SUJUD HATI AYAT 6

Sayang….!
Lewat sujud hati aku temukan dirimu
dalam hinanya diriku 

Kau maha penyayang dari orang yang aku sayang
kau maha pengasih dari insan yang aku kasihi
kau maha besar dari apa yang aku lihat
kau maha kekal dari makhluk yang kau ciptakan
sungguh kau maha dari segala maha memahami 

Sayang…!
Izinkan hambamu menyentuh dari kedalaman bercinta dengan-mu
tuk temukan hakikatmu yang haki-ki.

Lenteng, 2010
























Suara Hati Si Batu Karang
PENGANTAR CORPORATION

Sebenernya, tak ada kata yang lebih sederhana ketika membaca puisi suara hati si batu karang yang tidak terlalu rumit namun mengandung isi yang cukup mendalam  dalam sebuah perjalanan tentang kepenyairannya yang selalu ingin dan ingin walau teramat sakral dan jauh, pada saat itulah penyair menjadikan sesuatu yang tidak mungkin terjadi menjadi mungkin di tangannya. Memang tidak harus kita hindari ketika sesuatu yang menjadi pertentangan dalam hidup ini akan selalu menumbuhkan sesuatu dan hal yang tidak semua orang bisa, seperti halnya jala luddin rumi, emha ainun najib, cecep samsul hari, moh wananwar, dan masih banyak lagi para penyair yang hampir sama namun tidak sama yang selalu merenovasi merubah sesuatu yang tidak mungkin terjadi menjadi mungkin di tangan seorang penyair yang megitu ingin.
Ketika kita baca keseluruhan puisi suara hati si batu karang, saya tidak langsung mengomentari isi dan cara penulisannya karena setiap karya bersifat multi interpretasi yang tidak harus sama dengan pengertian kita hanya penulisnya sendiri yang dapat memahami secara mendalam karena setiap puisi hanya penyairnya sendiri yang dapat menjelajahi isi dan perasaannya, memang ketika batin seseorang di terpa gelombang maka akan  seperti sampan yang olang-oleng kesana kemari begitulah batin seseorang.
Saat saya baca salah satu puisinya yang berjudul hati, elfarisa, sayap burung yang terluka, kulukis wajah tuhan di tubuhmu, maka yang saya dapati adalah keresahan dan kegelisahan sang penyair seperti yang kita ketahui hati adalah sumber dari persaan manusia, kegelisahan batin sang penyair kadang harus terluka dan di lukai sendiri. Penyair yang merupakan aktifis media yang siap berperang lewat media mana saja saat saya perhatikan hari-harinya hanya untuk menemukan sesuatu yang jauh dari pandangan mata hatinya, kadang harus menjadi orang yang gila terkadang harus menyendiri tapi tidak ketinggalan informasi. Dari kesendiriannya selalu menghasilkan buah karya yang baru
Sepertinya kita harus banyak belajar juga dari apa yang di alami sang penyair selama perjalanan hidupnya yang tidak memungkinkan kita juga bisa seperti itu banyak orang yang terluka batinnya namun tidak semua orang sama luka-lukanya, sepertinya penyair ada pada tempat yang dia ingini walaupun bukan tempatnya di situlah dia melukis wajah tuhannya saat dia lebur luruh bersamanya bercinta dengan tuhannya dengan segala resah dan kegelisahan batinnya.
Semoga penyair bisa menenun segala keresahahan di batinnya hingga menjadi karya di tangannya, semoga apa yang di dapat selama kepenyairannya bisa di baca oleh khalayak ramai dan bisa menjadi contoh bagi para penyair-penyair pemula nanti di masa yang akan datang.




ELFARISA
PADANG REMBULAN

Malam ini rembulan kembali lagi bersama embun
yang beku di pipi malamku
berjajar para malaikat yang siap bertempur
dipadang rembulan yang lapang

Sayang jangan kau ikut dalam pernag kali ini
karena pedangku cukup satu menembus rahimmu

Anak dari jarum jam menekik bayangan di balik kepiluan
sedangku jarah jaring-jaring rindu di hatimu

Padang rembulan kali ini begitu indah
melirihkan do’a dari semilir angin yang kutitip rindu

Tubuhku beku dan kaku,
 karena tubuhmu telah ku hunus dengan pedang
sehabis sembilu

Sayang, siramila hati ini dengan cintamu karena ladangku
sedang gembur kali ini untuk kau tanami kembali

Sumenep, 17 Mei 2011
















KULUKIS WAJAH TUHAN DI TUBUHMU

Kulukis wajah tuhan di tubuhmu
selaras panjang mata memandang jauh dalam batinmu
ajaklah aku untuk bersamammu selama aku mampu

Kulukis wajah tuhan di tubuhmu,
resahmu adalah resahku
gelisahmu adalah gelisah batinku
bersamamu adalah akhir dari perjalanan hidupku

ku tananm rinduku di tubuhmu
















2 komentar:

  1. Saya mengucapakan terima kasih kepada sang vokalis akherat K.Bakhir sebagai pencetus pertama bahasa tubuh dengan tema AOLENG........AOLENG....AOLENG.......KA-ALLAH BERKAT beliau saya mencantumkan bahasanya di yutub ini semoga bahasa ini menjadi sejarah terpanjang yang pastinya sudah banyak orang yang mengenal bahasa ini salam aoleng........!!!!

    BalasHapus