I Q R O’
Tuhan
Ini keinginan dan kebodohanku
izinkan aku untuk memulainya
dengan menyebut nama – mu
Tuhan
Ini niat dan harapanku
berikan aku petunjuk permulaan dari - mu
tindakan tidak menjadi perubahan
jika niat tidak lagi dipakai
bersama langkah – langkah yang tertinggal
Tuhan
Ini hamba yang menghamba pada-mu
izinkan aku membaca ilmu – mu
menjadi beruntung bersama orang – orang yang beruntung
Tuhan
Ini hamba yang menghamba pada-mu
izinkan aku untuk mennyentuh ilmu-mu
manusia tidak dikatakan berilmu
dengan ilmu yang tidak bisa memanusiakan manusia
dengan rasa manusiawi
Tuhan
Ini do’a dan kebodohanku
izinkan aku hilangkan kebodohan itu
Ilmu tidak dikatakan ilmu jika manusi tidak lagi
Menggunakan ilmunya
Tuhan
Ini hamba yang menghamba pada- mu
hilangkan kebodohan itu
dengan mengharap Ridho-mu
Sumenep, 27 september 2010
Sebening embun cinta yang kau racik bersama
menyulam kata dari makna luka sementara
hanya untuk sebuih perasaan dari pekat embun menatap hari
Kebersamaan kita hingga musim
tak lagi singgah dalam kegersangan hati ini
sehingga dahaku semakin merajam hari
Malam ini rembulan semakin menatap sunyi
tanpa gerimis dingin gigil besamaku
dan takdir waktu yang semakin pilu di tabir
keresahanku
Semakin banyak pecahan duri
yang membawa kita semakin terhanyut
kedalam ranjang asmara
hanya satu yang aku pinta
jadilah duri terlindung dalam tubuhku
mengurai kata-kata dari sajak cintaku
Kehadiranmu mengantarkanku
kedasar pencarian cinta ini
mungkin di dasar laut kau bisa berlayar
bersamaku menjaring matahari dan gurita
di atas perahuku menikmati terik
dan gigil waktu di ujung usiaku
Lenteng, 24 Februari 2011
ELFARISA 12
Kasih tatap mataku dan kutatap matamu bagai busur panah yang menancap keras dalam tubuh kita
Kasih dari hidungmu aku lukis wajah tuhanku yang menjalar dari alis matamu yang hitam dan berdebu
Mencintaimu bagai embun yang sirna di pagi hari
terlalu cepat kau pergi dan merubah takdir waktu bersamaku
terlalu sempurna tuhan menciptakanmu menyulam ketertarikan dari ketajaman bola matamu hingga harus terluka seperti ini
Aku merasakan kesejukan yang mengalir dari dadamu
membelah menjadi dua arus aliran percintaan kita
Di puncak kemarahan ujung gunungmu
aku raih dan aku lumat keresahan dan kegersangan tubuhmu
Gunung dadamu yang kau belah menjadi dua benua mengalir deras di belahan jiwamu, jiwaku
Kekasih sentuhlah tubuhku lalu kau selimuti aku tanpa resah membelenggu
Tuhan…….dimana dirimu aku telah jelajahi gunung setinggi nada tangga dadamu yang menjulang di tubuhmu
Dari perutmu aku tulis pusaran waktu yang berlagu dan berliku
tubuhmu adalah jembatan bagiku dan kemarahanmu adalah arus yang menantangku
Tuhan ……….jangan kau paksa aku tuk melawanmu karena aku tak cukup usia dan sebilah pedang untuk perawanku
Lenteng, 05 Mei 2011
SUARA HATI
Biarkan aku tertidur lelap
diantara sela-sela jemarimu yang lembut
menjadikan damai memeluk resah ini
Aku ingin tertidur diantara bintang – bintang
yang membuat mimpi – mimpiku menjadi terang
Di pelupuk matamu aku melihat kesejukan jiwa
yang jauh dari keramaian
yang menjadikan aku terasing tanpamu
Aku hanya ingin menjadi tempat
dimana aku teduh bersamamu
dan jauh dari keterasingan rindu ini
Sumenep, 10 Januari 2011
LEWAT HUJAN DAN KEMARAU
Kapan kau akan datang untuk cinta
yang sejukkan kemarau panjang
mengalir di atas luka meneteskan air mata kepiluan
Aku berjalan di atas ranting yang kering
hampir kau robohkan bongkahan -bongkahan
akar batang hati ini
Lewat hujan dan kemarau
aku mencintaimu bagai putik yang takkan hilang
di ujung serbuk sari itu
Menaburkan jiwa-jiwa bernyawa
bersemayam di lautan cintamu
mengalir lewat hembus nafasmu
hingga darah jantungku tertompa arus jantungmu
Lenteng, 30 November 2010
ELFARISA 5
Ditubuhmu terdapat syair lagu untuk tuhanku
Dimatamu aku temukan kesetiaan untukku dan ketenangan jiwa di batinku
Di rambutmu aku bagai berlari di hutan yang rimbun yang bisa saja aku tersesat di jamban tubuhmu
Dialismu telah ada tanda-tanda akan turun hujan di mataku mengubur kenangan dan masa lalu bersamamu
Dipipimu ternyata hujan itu lembap dan beku mungkin karena suhu tubuhmu atau saat ini adalah musim penghujan untuk para malaikat cintaku
Dihidungmu kutemukan butiran embun yang hampir pecah karena kegersangan
ataukah dia sedang murung pasrah karena keadaan
Dari bibirmu tak ada petir yang lebih menyakitkan dari pada kata-kata
aku harus meninggalkanmu agar tak ada lagi kekecewaan dan luka batinku
Karena bulan mei adalah musim bagi kupu-kupu yang akan terbang mencari kehidupan lain
Bukan siapa-siapa tapi sessuatu yang telah merubahmu
Lenteng, 05 mei 2011
ELFARISA 25
Tak ada luka seindah musim ini
bersamamu aku harus terluka berkali-kali
Tapi mana tuhanmu dia takpernah menyentuhku dia tak pernah bersamamu
ataukah aku harus habis kata-kata untuk mencarinya tapi tidak pada dirimu
Kasih……tataplah betapa aku ingin menyelimuti tubuhmu, menyelimuti hari kemurunganmu tanpa harus dahaga merajamku
Tubuhmu yang gersang telah membelah dadaku, merobek jantungku, meminum habis reguk air mataku
Tak ada kata lagi, tak ada lagu lagi
karena kamarku sesak dengan kupu-kupu yang terluka musim ini
Di ranjang pengantin kita aku lebur besamamu, aku luruh bercinta denganmu
hingga aku harus terbujur kaku tanpa kata
Sungguh percintaan kita tak seindah bulan pernama yang hanya sebertar lalu pergi tanpa kata-kata
Tuhan…..hukumlah aku adililah kekasihmu ini yang telah lancang membelah keperawanan di tubuhmu
Tuha…..jambanlah diri ini yang telah mengusik ketenangan para malaikat yang sibuk merajut kembali robekan luka sayapnya
Bunga yang indah di genggaman tanganmu kini telah mengering bersama usia cinta kita
Kini aku harus berpulang dari rumahmu
dan berpamit rindu dari sajak-sajakku
Karena luka-lukaku telah sempurna bersamamu
Lenteng, 06 mei 2011
PERJALANAN
Hidup adalah perjalanan
menggapai mahkota kenabian
bagai lautan mengalirkan
setetes madu
Sumenep, 24 septenber 2010
BUAH IMAN
Semakin tinggi pohon
semakin banyak ranting
semakin banyak daun
dan semakin kencang pula
angina yang menerpanya
Sumenep, 26 september
H A T I
Itulah sebutan
simerah pekat
melekat dalam jiwa
dan raga manusia
Hati – Hati dengan hati
karena hati menyerang
saraf jantung dan nadi mati
Hati – Hati dengan hati
karena hati bersih nan suci
bersama orang – orang yang sufi
Hati
itulah sebutan
simerah pekat
mengalir dalam saraf – saraf
dan jantung manusia
Hati – Hati dengan hati
tergores perih nyeri
tak terobati
Hati – Hatilah dengan hati
karena hati titipan ilahi
Sumenep, 26 septembe 2010
SAJAK HARI INI
Hari ini aroma tanah masih tercium mesrah
bersama lantunan hujan yang perih terasa di ujung keningmu
Sesekali kau usap kata ma’af
dengan langkah penuh dosa
Hujan yang kini mengering di ladang cintaku
mengeras bagai batu berubah jadi abu
mengadu pada deru waktu
Sesak dadaku penuh debu berhembus
dari dalam palung-palung di jiwaku
Hari ini tak ada lagi lagu
untuk kau kenang senyap dala bayang
Hari ini esok dan yang terlampaui
akan jadi kenangan
bagai embun yang menepi di pagi hari
Lenteng, 11 maret 2011
IDENTITAS SEORANG PENYAIR
Kini waktu yang kau sebut laut kepulangan
menjadi jinak di tanganmu
tertidur lelap dalam pelukmu
setelah hujan kembali bertandang kemarau sakalmu
Lautmu yang terbakar dalam dadaku
mengering seluruh kepingan darah jantungku
bukannya aku tak luruh dalam perjalanan ini
kadangkala aku harus terluka dan menyiksa batinku
hanya untuk berpeluk mesrah dengan-mu
Kini sungai-sungai di dadaku mengalir dengan deras
semakin membawaku ke arus yang lebih dalam
semoga saja aku tak takterjebak
dalam pusaran arus kemarahan lautmu
Karena aku penyair yang mencintai
gemuruh ombak syahdumu
Lenteng, 9 maret 2011
AKU CINTA TUHAN
Kesendirianku adalah cerita masalalu mengenangmu
sepi, hening di matamu membuat diri ini layu
tak mengubah waktu dan takdir di meja makanku
Menu hari ini berjumpa lewat ruas waktu yang berbuku
dan kupahat lukaku di antara ruas-ruas itu bersamamu
Semakin banyak aku menulis syair tubuhmu
lewat kubahan luka hari-hari berbuku yang beruas waktu
diantara patahan ranting dan guguran daun musim semi
Sepi kamarku menindih lapang dada tubuhku
datanglah kekasih, ku rundukkan punggungku
dari sayap subuh yang berpulang dari ladang sejadahku
Inikah rahasia percintaan tak menghabiskan
detik di punggungku
Ataukah rahasia cinta dengan tuhanku
hanya aku dan waktu usiaku yang layu
Lenteng, 29 april 2011
RUMI
Di sudut remang menatap kesetiaanmu menghujani di setiap haluan
tanah yang gersang tuk jadikan hamparan ladang sejadah dalam perjalanan riuh ombakmu
Serasa aku terbawa arus gemulaumu yang syahdu
dengan deburan ombak memanja di tebing kepiluanku
Kasihku tataplah betapa aku ingin bermesrah ramah denganmu
dengan tiada kebisingan dan gelagak rayu mencumbu
Oh ..maha kasihku kau sentuh tubuhku mulai dari rahim tanah yang layu
menjadi darah yang mengalir kesekujur tubuhku
dari berjuta sel bercumbu rayu menyatu menjadi satu
Karena air susu ibu aku menjadi tabu manis di bibir
mengecup pahit empedu tak sirna di tabir kepiluanku
Perjalanan ini berlarut panjang sepanjang makna dari kata mutiara cintamu
berparas terik layu di langkah rahim ibu tak terurai sepanjang waktu
Ya…. Aku memang tabu tak sempat air mengalir di wajah, tangan, kepala, telinga, dan di jemari kakiku
karena aku tersipu malu dengan kecantikan maha karyamu
Kasih aku tak ingin layu sebelum kau petik tangkai dalam luruh sujudku
melebur bunga-bunga di taman surgamu
mengharumkan di setiap tabir bidadari yang bergaun mawar putih itu
Ya....! akulah rumi itu mencari percikan cahaya di sudut remang
malam yang kaku
tertusuk runcing subuh di balik bongkahan sayapku hingga aku tak sempat terbang melebur syahdu di ranah ladang sejadahku yang pilu
Lenteng, 19 Januari 2011
MUSAFIR I
Seperti yang di nyanyikan oleh burung -urung yang lepas di ranting – rantig yang teduh dengan sentuhan daun bibir tak bertulang
Yang mengecup kening senja hilang di balik tabir pipimu membasahi bulu-bulu roma yang hinggab di hulu persinggahan hingga aku tak sempat bercengkrama memeluk aroma tabir senja yang menetas di hulu mata keningmu
Aku sendiri memegang sebatang pengayuh perahu kecil ini
berlayar mengarungi luasnya samudra cintamu hingga waktu tak berjanji menemani sampai di ujung percakapan antara kau dan aku
Akankah gelombang dan riuh ombakmu tak bias diujung pasir-pasir yang masih Menyisakan kebaikan dihulu perahuku
selaksa gelombang yang liar digenggaman tanganku tak sempat aku lirihkan dengan do’a bersama perahu kecil ini untuk menjemputmu
Jika waktu,
kau berada dalam palung yang jauh akan kupersiapkan bekal untuk mengarungi walau hari lagi-lagi menyengat dengan hangat dan ombak menari menemani fatwa tentang cintamu yang kian kunanti
Bila waktu,
Aku temukan kau dalam kecantikan ubun fajarmu tak sempat kembali kutulis sajak beraroma bibir senyummu yang hilang di bias pekatnya embun pagi tersulut aroma kelopak bunga matahari mekar menakar kembali riuh ombak menyambut desah nafasku tuk arungi samudra liarmu menepi di tabir kelamin karang, pasir yang hangat terasa memeluk tubuh ini
Ah ..! aku tidak puas jika hanya kau kecup kening dan kau lumat ujung bibirku meremas lemas jemari tanganku lalu kau pergi dalam gemetar tubuhku tenggelam di ujung kelaminmu yang rentan menimbun pagi terbias harapan kau kembali memeluk tubuhku yang gemtar ini
KATAKANLAH
: katakanlah
Kepada angin yang berbisik memahami
makna tubuhmu yang tak mungkin setia
meniadakan segalanya
: katakanlah
Kepada air yang bergelombang
mengalir dari tubuh adam
memasang surutkan gelombang
lautan yang mungkin saja
menelan segala ketiadaan
: katakanlah
Kepada api yang membara membakar
segala yang ada
tempat hamba durhaka
tak mengakui kelemahan dirinya
: katakanlah
Kepada adam yang terlahir dari segumpal tanah
dengan segala ada dan ketiadaan
menyulam perempuan dari kesendirian
: katakanlah
Tuhanmu satu
dia tidak beranak dan tidak pula di peranakkan
Lenteng, 28 April 2011
MENGEJA MALAM
Mengeja malam yang retak menjalar dari dinding yang berlumut
malam ini kunang-kunang telah lenyap berpulang ketepian danau
tempat menyuci lumut pada dinding merah yang memar
dengan air garam tepian danau firdaus
Hening malam ini tak sampai keranjang tubuh molekmu
sempat kiranya luluri tubuhku dengan gaun pengantin yang baru
dari gugusan karang, kemenyan dan rentang waktu yang kian
merindumu
Batuan, 13 April 2011
Di pelabuhan tabir senjamu lagi-lagi tak sempat kurampungkan sajak
buhul ubunmu tak menyiratkan kepulanganmu tuk kutulis selembar puisi lagi untukmu
Aku hanya musafir yang haus ilmu
menakar langit dan bumi tuk jadi selimut tubuhku lalu luruh dalam percintaan denganmu wahai kekasihku
Asta Tinggi, 17 Januari 2011
NYANYIAN PAGI
Nyanyian embun di pagi hari
membuat bunga-bunga itu tersenyum
lepaskan dahaganya
Menjadikan seekor kupu-kupu rebah menghampiri
hinggap menghisap madu lepaskan rasa gelisah
saat hujan kembali membasahi sayapku
Aku tertidur lelap dalam rumah kepompong itu
hingga tahun berlalu aku sayup memeluk malam
di ujung gelab bersama-mu
Lenteng, 30 November 2010
BERPULANG DARI RUMAH-MU
Malam saat kudengar lantunan kedatangan hamba-hambamu
yang telah berpulang menyucikan lumut
pada dinding rumah-mu
Aku bagai rayap-rayap yang beterbangan
menghampiri cahaya lampu itu
mengharap kehangatan dan kehidupan dari rumah-mu
Dari cahaya putih itu
aku gugurkan diantara saya-sayap yang membawaku
kepelukan diantara aroma tubuhmu
menjadikan guguran sayap itu menjadi berjiwa kembali
Lembung, 2 November 2010

SAJAK EMBUN PAGI HARI
Kekasih izinkan aku menangis karenamu
biarkan airmata ini mengalir di tabir keresahanku bersama puluhan anak sungai jauh kedalam palung batinku
Pagi ini burung-burung itu sepi dan menyendiri
tidak tau arah harus bagaimana
Dia kehujanan gigil seluruh bulu tubuhnya
jangan menghiburku karena sayap-sayap ini telah berpatahan di dahan ranting-ranting yang kering bersama musim kemarau yang panjang
Ataukah dia sedang menikmati luka-luka di batinnya
Kekasih izinkan aku memeluk resah ini tanpa harus kau pergi
dan takkan pernah kembali
Karena aku akan selalu setia menantimu
hanya kau yang dapat sembuhkan luka-luka di tubuhku
Lenteng, 07 mei 2011
SAYAP BURUNG YANG TERLUKA
Jangan menangis sayangku, janganlah kau bersedih lantaran sayap burungmu yang terluka bersamaku
Jangan menangis sayangku, janganlah kau bersedih
walau kau tak lagi mampu terbang mengepahkan sayapmu di udara bersamanya
Jangan menangis sayangku, karena airmatamu akan ter buang sia-sia
dan hanya membuat luka yang baru di tanganmu
Jangan menangis sayangku, janganlah bersedih
luka di pergelangan tanganmu akan sembuh dengan waktu bersamamu
Sayangku sentuhlah luka-luka di sayapku
dengan kesejukan di batinku
Bersamamu tak ada luka dan percintaan yang lebih indah karena kau kekasihku dan aku menyayangimu
kini aku harus menunggumu bersama sayap burung yang terluka
Lenteng, 07 mei 2011
BIODATAFARIS ( Aries Kelana ) yang masih penyair ingusan dibandingkan penyair-penyair di luar sana. Kelahiran Sumenep, 12 juli 1987 desa Lembung Barat Kec. Lenteng. Senang
menulis sejak MA. Miftahul Ulum Lenteng sampai sekarang menjalani kuliyahnya jurusan Tarbiyah, Aqidah Usymuni Tarate Pandian Sumenep ( STITA ). Sebagian
karyanya pernah dimuat di media cetak, antara lain di Majalah Mimbar
( MPA), Majalah Fikri, Buletin Fikri, dan sering juga di bacakan di acara Nada Dan Kata Radio Mif-U 87,9 FM (Belajar Bersama Di Udara) Radio Suwasta Di Lenteng. Sekaligus presenter Radio Mif-U 87,9 FM ), sebagai editor Majalah Fikri( Media Kreasi Dan Aspirasi Siswa ).
Organisasi:
Sebagai seksi Seni Dan Budaya ( Seniman dan musisi Lenteng ) di Yayasan Corporation yang menaungi beberapa komunitas lainnya antara lain: Yayasan Band, Yayasan Celuler, Yayasan FC, Yayasan Salon, Yayasan Ternak, Yayasan Seni, Yayasan Desing, Yayasan Media.
Aktif di komunitas Teater Pelar Sumenep, anggota kajian Seni Dan Budaya PANGESTOH NET TIHINK COMMUNITY sumenep, dan guru di lembaga MA. Miftahul Ulm Lenteng sekaligus pembina Teater Bintang di lembaga Miftahul Ulum Lenteng. Menulis puisi dua bahasa: Bhs. Indonesia Bhs. Madura (dalam tahap penyeleksian antologi puisi madura: Kaule oreng madura/ Ajharing bulen ka a langan ). dan tahap penyeleksian antologi puisi bersama (Antologi Puisi Yayasan Corporation )
Persembahan:
Kepada Elfarisa, ibunda tercinta, ayahanda, guru, semu komunitas pelar, Smile ( Seniman Dan Musisi Lenteng) dan “taretan” yang aktif di bidang seni dan budaya.
PUISI ARIES KELANA

SUARA HATI SI BATU KARANG
ELFARISA
Puisi: Aries Kelana
Diterbitkan Oleh
Yayasan Corporation:
Yayasan Seniman Dan Musisi Lenteng
Jalan: Rantai Hidup Yang Rumit No. 05
: Yayasan Corporation Kecamatan Lenteng
: HP 087850523726
: E_mail Parisbentoparis@Ymail.Com
: Blog Elfarisa@Gmail.Com
: http//yayasan-org.blogspot.com
Desain Sampul
Aries Kelana
Tata Letak
Aries Kelana
Hak Cipta dilindungi Oleh
Yayasan Corporation:
Yayasan Seniman Dan Musisi Lenteng
/Dapat dipertanggung jawabkan
Cetakan Pertama, 25 Mei 2011
PERIHAL PENYAIR
“Kulukis wajah tuhan di tubuhmu”. Perjalanan batin seorang penyair yang begitu ingin. Sehingga sesuatu dapat dirubah dari tidak mungkin menjadi mungkin di tangan seorang penyair. Memang pejalanan seorang penyair tidak harus di samakan dengan seorang sufisme namun ketika seorang penyair berada pada tempat dimana tidak semua orang dapat memasuki tempat dan ruang itu hening, meditasi maka saat itu seorang penyair akan begitu ingin bertemu dengan tuhannya walau harus terluka batin dan perasaannya. Elfarisa dimana tempat untuk menuju pelabuhan yang di ingini sang penyair suara hati si batu karang, sebagai jembatan dari tubuh dan luka-luka bersamanya, yang tak sebagian orang dapat memasuki dunia itu sungguh perih menjadi seorang penyair ketika harus terluka yang begitu menganga di tubuh batinnya.
Perjalanan ini memang harus terluka dan bahagia, dan aku menikmati luka-luka di tubuh batinku lewat aliran percintaan di ranjang tubuhn-nya tempat aku menanam dan memadu kasih bersama-nya aku lebur aku luruh bercinta dengan-nya saat itu aku melukis wajah tuhanku di tubuh elfarisa yang mungkin saja aku sejuk bersama tuhanku di tubuh elfaria.
Sungguh perjalanan ini tak menghabiskan detik dipunggungku dan sebilah pedang untuk perawanku mungkin karena aku adalah penyair yang dungu, yang selalu mencari percikan cahaya di sudut remang malam yang kaku hingga aku tertusuk runcing subuh dibalik bongkahan sayapku tak sempat terbang melebur syahdu di ranah ladang sejadahku yang pilu.
Hari ini tak ada lagi lagu yang dapat kita kenang senyap dalam bayang hanya suara hati kita dan sejarah yang kita tinggalkan untuk anak cucu kita untuk mereka baca dari jejak sajak-sajak di luka tubuh kita.
Tenanglah sayang aku akan berlayar sejauh pulau di batinmu, batinku, walau aku harus tenggelam dan rapuh di perjalanan untuk mencarimu.
Sebegitu inginnya sang penyair untuk menemui tuhan-nya hingga harus dahaga merajam tubuhnya, setiap hari-hari bersamanya yang meminum habis reguk airmata dan keringat dingin di tubuh sang penyair
Sebegitu mengharapkah sang penyair untuk bertemu sang maha kasih-nya dengan luka-luka sepanjang perjalanan hidupnya hingga harus waktu, usia di punggungnya tak bisa menghapus dosa-dosa selama hidupnya
Sungguh maha sempurna kau ciptakan sang adam menyulam perempuan dari kesendirian hingga harus melanggar tata tertip tuhan di buang telanjang dari sudut yang berlainan, sungguh kisah ini telah bersama elfarisa sepanjang jalan, semoga saja aku terlahir kembali dari rumah kepompong yang membuat ketertarikan setiap mata yang memandang hingga adam dan hawa memulai kebersamaan di kehidupan yang akan datang. Ataukah elfarisa sepanjang jalan. Saling mencintaim bagai putik yang takkan hilang di ujung serbuk sari yang sedang mekar.
SYAIR SENJA
Di ranjang tubuhmu aku masih belum sempat melukis wajah tuhanku lewat syair senja yang selalu kurindu dekapannya
Basah seluruh tubuhku tak menyisakan keabadian
diujung sisa hujan dirambutmu dan mengagamakan syair puisiku
di tubuhmu
Keabadian cintaku melukis tubuhmu dan wajah tuhanku dalam syair puisiku
hingga tahun berlalu kau selalu bersamaku menemani perjalanan kepenyairanku yang tabu
Karena kau adalah bidadari yang mengantarkanku ke negeri tak bernama yang selalu kucari dengan luka di batinku
Oh….sayangku kini kau harus berpulang bersama syair senja di tubuhmu
membawa segala kenangan dan masa laluku
mungkin karena aku adalah penyair yang dungu mengharap kau selalu
sembuhkan dahagaku
Lenteng, 08 Mei 2011
- Pengantar Penerbit
- Pengantar Manager
- Pengantar Penasehat
- Pengantar Penyair
Ø 1 Elfarisa 19
Ø 2 Elfarisa 12
Ø 3 Elfarisa 5
Ø 4 Elfarisa 25
Ø 5 Hati
Ø 6 Sajak Hari Ini
Ø 7 Rumi
Ø 8 Musafir 1
Ø 9 Nyanyian Pagi
Ø 10 Sayap Burung Yang Terluka
Ø 11 Sajak Embun Pagi Hari
Ø 12 Berpulang Dari Rumahmu
Ø 13 Mengeja Malam
Ø 14 Katakanlah
Ø 15 Aku Cinta Tuhan
Ø 16 Identitas Seorang Penyair
Ø 17 Buah Iman
Ø 18 Perjalanan
Ø 19 Lewat Hujan Dan Kemarau
Ø 20 Suara Hati
Ø 21 Iqro’
Ø 22 Disebuah Senja
Ø 23 Syair Senja
Ø 24 Rantai Hidup Yang Rumit
Ø 25 Pergi Kepulau
Ø 26 Laila
Ø 27 Sujut Hati Ayat 4
Ø 28 Sujut Hati Ayat 6
Ø 29 Kulukis Wajah Tuhan Ditubuhmu
Ø 30 Padang Rembulan
Ø 31
Ø 32
Ø 33
Ø 34
Ø 35
Ø 36 Perihal Penyair
DI ESBUAH SENJA
Di sebuah senja kau telah menua bersama usia cinta kita
yang telah kita ukir indah bersama, dengan luka yang teramat parah dan menganga
Kota tempat kita memadu kasih, kini telah sirna bersamamu
hanya tinggal debu-debu yang merindu kota kenangan di tubuhmu
Sungguh, keabadian cinta ini tak selalu sempurna
dan berahir dengan luka
Di sebuah senja kau melepas diantara sayap-sayap kenangan
masalalu yang pilu
berhamburan seluruh resah di batinku
Oh….sayangku jangan kau pernah pergi dalam keabadian cinta ini
karena aku tak kuasa meninggalkan ladang sejadah di tubuhmu
tempat aku menanam dan memadu kasih bersamamu
Kini aku harus menunggu, karena kau berpamit rindu di sebuah senja kepulanganmu
Lenteng, 08 Mei 2011
RANTAI HIDUP YANG RUMIT
Tenang sayang, basahilah jiwamu dengan sekuntum bunga do’a di tanganmu
Perjalanan ini adalah anak rahim kehidupan masa depan yang tak satupun tau teka-teki dalam rantai kehidupan yang rumit
Diusia perjalanan kita anak rahim batin jiwa kita akan merasakan bahagia, sedih, murung, kadang kala harus terluka yang amat menganga
Kita akan berpindah tempat ketempat yang lain
terkadang kita harus tertidur dalam rumah kepompong dan terlahir kembali
Saat itulah kita akan merajut kehidupan yang baru memberi keindahan dari setiap mata yang memandang, memberi kesejukan dari bunga yang sedang mekar
Tenang sayang, kita telah lewati masa demi masa dan telah tertidur dalam rumah kepompong itu dan melukis wajahmu di langit yang biru
Lenteng, 11 Mei 2011
PERGI KEPULAU
Sayang dari air laut garammu yang asin
aku belajar tentang syair kehidupan
Sayang dari gemuruh ombakmu yang bergelombang aku belajar tentang syair ketegaran
Sayang ajaklah aku sejauh kepulau batin rindumu membangun singgasana bersama para malaikat dikedua bahuku
Oh maha…kasih biarkan aku berlayar sejauh pulau dibatinmu walau aku harus rapuh dan teggelam dalam perjalan untuk bersamamu
Lenteng, 11 Mei 2011
LAILA
Laila
Namamu indah nan manja
membuat anak adam terlena-lena
kini kau datang dan pergi
membuat anak adam semakin bersedih hati
karena kau tak kunjung kembali
dalam pelukan mata hati
Laila
Malam itu adam dalam sebingkai do’a
dengan mengharap kehadiran-mu
menyentuh mata air cinta
mengalir membasahi sejadah panjangku
Laila
Kau datang dengan sejuta harapan
kau hadir dalam sajak- sajak tasbih cintaku
kau datang penuh harapan
terangi gelap malam menyelimuti hati penuh duri
kini kau telah pergi membawa sejuta penyesalan di hati
Laila
Akankah anak adam
bisa bercumbu bersamamu kembali
dimalam yang suci dalam dekapan lailatul qadarmu
yang penuh dengan sejuta arti
Semenep. 28 September 2010
SUJUD HATI AYAT 4
Perjalanan sujud hati ini masih
bertanya-tanya di alam yang petang
hingga gejora bintang takmampu aku kejar
bagai bayang - bayang menghantui dari belakang
saat hati ini bersujud aku tak pernah temukan
dirimu wahai tuhan
Apakah itu bayangan
apakah itu bintang-bintang
apakah itu api yang menyala-nyala
mengobarkan keangkuhan
Sayang…. !
Sampai kapan hati ini harus bersujud
sedangkan kau tak pernah aku kenal
Lenteng, 2010
SUJUD HATI AYAT 6
Sayang….!
Lewat sujud hati aku temukan dirimu
dalam hinanya diriku
Kau maha penyayang dari orang yang aku sayang
kau maha pengasih dari insan yang aku kasihi
kau maha besar dari apa yang aku lihat
kau maha kekal dari makhluk yang kau ciptakan
sungguh kau maha dari segala maha memahami
Sayang…!
Izinkan hambamu menyentuh dari kedalaman bercinta dengan-mu
tuk temukan hakikatmu yang haki-ki.
Lenteng, 2010
PENGANTAR CORPORATION
Sebenernya, tak ada kata yang lebih sederhana ketika membaca puisi suara hati si batu karang yang tidak terlalu rumit namun mengandung isi yang cukup mendalam dalam sebuah perjalanan tentang kepenyairannya yang selalu ingin dan ingin walau teramat sakral dan jauh, pada saat itulah penyair menjadikan sesuatu yang tidak mungkin terjadi menjadi mungkin di tangannya. Memang tidak harus kita hindari ketika sesuatu yang menjadi pertentangan dalam hidup ini akan selalu menumbuhkan sesuatu dan hal yang tidak semua orang bisa, seperti halnya jala luddin rumi, emha ainun najib, cecep samsul hari, moh wananwar, dan masih banyak lagi para penyair yang hampir sama namun tidak sama yang selalu merenovasi merubah sesuatu yang tidak mungkin terjadi menjadi mungkin di tangan seorang penyair yang megitu ingin.
Ketika kita baca keseluruhan puisi suara hati si batu karang, saya tidak langsung mengomentari isi dan cara penulisannya karena setiap karya bersifat multi interpretasi yang tidak harus sama dengan pengertian kita hanya penulisnya sendiri yang dapat memahami secara mendalam karena setiap puisi hanya penyairnya sendiri yang dapat menjelajahi isi dan perasaannya, memang ketika batin seseorang di terpa gelombang maka akan seperti sampan yang olang-oleng kesana kemari begitulah batin seseorang.
Saat saya baca salah satu puisinya yang berjudul hati, elfarisa, sayap burung yang terluka, kulukis wajah tuhan di tubuhmu, maka yang saya dapati adalah keresahan dan kegelisahan sang penyair seperti yang kita ketahui hati adalah sumber dari persaan manusia, kegelisahan batin sang penyair kadang harus terluka dan di lukai sendiri. Penyair yang merupakan aktifis media yang siap berperang lewat media mana saja saat saya perhatikan hari-harinya hanya untuk menemukan sesuatu yang jauh dari pandangan mata hatinya, kadang harus menjadi orang yang gila terkadang harus menyendiri tapi tidak ketinggalan informasi. Dari kesendiriannya selalu menghasilkan buah karya yang baru
Sepertinya kita harus banyak belajar juga dari apa yang di alami sang penyair selama perjalanan hidupnya yang tidak memungkinkan kita juga bisa seperti itu banyak orang yang terluka batinnya namun tidak semua orang sama luka-lukanya, sepertinya penyair ada pada tempat yang dia ingini walaupun bukan tempatnya di situlah dia melukis wajah tuhannya saat dia lebur luruh bersamanya bercinta dengan tuhannya dengan segala resah dan kegelisahan batinnya.
Semoga penyair bisa menenun segala keresahahan di batinnya hingga menjadi karya di tangannya, semoga apa yang di dapat selama kepenyairannya bisa di baca oleh khalayak ramai dan bisa menjadi contoh bagi para penyair-penyair pemula nanti di masa yang akan datang.
PADANG REMBULAN
Malam ini rembulan kembali lagi bersama embun
yang beku di pipi malamku
berjajar para malaikat yang siap bertempur
dipadang rembulan yang lapang
Sayang jangan kau ikut dalam pernag kali ini
karena pedangku cukup satu menembus rahimmu
Anak dari jarum jam menekik bayangan di balik kepiluan
sedangku jarah jaring-jaring rindu di hatimu
Padang rembulan kali ini begitu indah
melirihkan do’a dari semilir angin yang kutitip rindu
Tubuhku beku dan kaku,
karena tubuhmu telah ku hunus dengan pedang
sehabis sembilu
Sayang, siramila hati ini dengan cintamu karena ladangku
sedang gembur kali ini untuk kau tanami kembali
Sumenep, 17 Mei 2011
KULUKIS WAJAH TUHAN DI TUBUHMU
Kulukis wajah tuhan di tubuhmu
selaras panjang mata memandang jauh dalam batinmu
ajaklah aku untuk bersamammu selama aku mampu
Kulukis wajah tuhan di tubuhmu,
resahmu adalah resahku
gelisahmu adalah gelisah batinku
bersamamu adalah akhir dari perjalanan hidupku
ku tananm rinduku di tubuhmu
aoleng
BalasHapusSaya mengucapakan terima kasih kepada sang vokalis akherat K.Bakhir sebagai pencetus pertama bahasa tubuh dengan tema AOLENG........AOLENG....AOLENG.......KA-ALLAH BERKAT beliau saya mencantumkan bahasanya di yutub ini semoga bahasa ini menjadi sejarah terpanjang yang pastinya sudah banyak orang yang mengenal bahasa ini salam aoleng........!!!!
BalasHapus